Jaka Sembung

Jaka Sembung
Jaka Sembung

Pada zaman penjajahan Belanda, Parmin alias Jaka Sembung merupakan jawara sakti Kandanghaur. Ia memberontak atas ketidakadilan pemerintah Hindia Belanda yang mengharuskan para tawanan bekerja paksa. Untuk menumpas Jaka Sembung, Komandan Hindia Belanda setempat mengadakan sayembara. Jawara sakti Kohar awalnya kalah, tapi kemudian seorang dukun Jawa mengusulkan agar mereka menghidupkan kembali Si Hitam, seorang jagoan sakti kejam yang pernah mati di tangan guru Jaka Sembung. Si Hitam memiliki ajian gelap dan misterius Rawa Rontek yang membuatnya tak bisa mati bila tubuhnya menyentuh tanah.

Parmin dikhianati oleh salah seorang penduduk desa dan hendak ditangkap.
Parmin kalah telak saat berhadapan dengan Si Hitam yang juga menguasai ilmu sihir dan ditangkap. Tidak hanya disiksa, kedua mata Parmin dicongkel secara keji oleh Komandan Hindia Belanda, dan walaupun berhasil meloloskan diri, dia disihir menjadi seekor babi hutan oleh Si Hitam. Usaha Parmin untuk melarikan diri akhirnya berhasil berkat bantuan kekasihnya, Surti . Surti membawa Jaka yang telah menjadi babi ke tengah hutan di mana mereka bertemu dengan guru Jaka, seorang petapa yang sakti. Surti yang mencintai Parmin rela untuk mengorbankan nyawanya demi kekasihnya tersebut. Surti rela menyumbangkan kedua matanya untuk "dicangkokkan" pada Parmin dalam sebuah ritual ajian mistik yang membahayakan nyawanya sendiri. Akhirnya Surti meninggal setelah memberikan kedua matanya kepada Parmin sebagai bentuk cinta sejatinya.
Parmin yang sangat sedih bersumpah untuk membalas dendam pada Komandan Hindia Belanda yang keji dan Si Hitam.

Setelah berhasil memulihkan diri dan bekal ajian sakti dari gurunya, Jaka Sembung bergerak untuk memimpin rakyat desa dengan dibantu Maria, putri komandan Hindia Belanda yang tidak setuju dengan sikap keji ayahnya pada rakyat. Mereka berdua dan rakyat desa akhirnya menyerbu ke benteng Hindia Belanda dan juga Si Hitam dalam sebuah pertempuran final yang sengit, yang dimenangkan oleh Jaka sembung dan kawan kawan.

ASAL-USUL JAKA SEMBUNG BAJING IRENG
Alkisah Bajing Ireng adalah seorang pendekar wanita yang bernama asli Roijah dari Desa Kandang Haur. Melihat ketidak-adilan dan penderitaan rakyat, Bajing Ireng merampok harta orang-orang kaya dan tamak dan terutama para penjilat Kumpeni untuk didermakan kepada rakyat jelata yang menderita.

Penderitaan rakyat pada waktu itu bukan saja dari penjajah Belanda, tetapi juga akibat bencana alam yang bertubi-tubi. Suatu hari ketika pulang merampok di rumah Demang Asmara, Bajing Ireng dicegat oleh Jaka Sembung. Dia mengira bahwa Jaka Sembung (Joko Sembung) adalah orang bayaran Demang Asmara, maka Bajing Ireng langsung menyerang Jaka Sembung.

Sambil sibuk meladeni serangan Bajing Ireng, Jaka Sembung berusaha menjelaskan siapa sebenarnya dirinya. Setelah berhasil menjelaskan siapa dirinya sebenarnya, Bajing Ireng berbalik mengagumi ketangkasan Jaka Sembung yang bernama asli Parmin itu. Parmin adalah pendekar yang dianggap memberontak dan membahayakan pemerintahan Belada pada waktu itu. Dia adalah seorang buronan Belanda yang barang siapa bisa menangkapnya akan diberi hadiah yang besar oleh Belanda.

Demang Asmara yang sudah lama bersengkongkol dengan Kumpeni menyediakan diri dengan syarat jika berhasil menangka Jaka Sembung minta kedudukannya dinaikkan menjadi bupati. Dan Kumpeni pun sepakat, maka diaturlah siasat untuk menangkap Jaka Sembung dengan segala kelicikan Demang Asmara.

Dengan segala kelicikan Demang Asmara, akhirnya Jaka Sembung berhasil di tangkap dan dijebloskan kedalam penjara. Didalam penjara, Jaka Sembung mendapat perlakua bak binatang dan siksaan yang sagat berat. Penderitaannya di dalam tahanan seolah tiada hentinya.

Dendam Balung Wesi terhadap Ki Sapu Angin guru Jaka Sembung tak pernah padam membuat ia menjadi pembunuh dan melakukan perbuatan yang membabi buta karena dipengaruhi oleh ilusinya. Kehebatan pendekar sesat ini segera dimanfaatkan oleh seorang Demang, yaitu Juragan Asmara Cakradiningrat yang menjadi orang kepercayaan Kompeni Belanda dalam menindas setiap perjuangan rakyat di daerah Pasundan.

Selain Balung Wesi, Juragan Asmara menghimpun pula beberapa pendekar sesat untuk memerangi perjuangan rakyat yang dipimpin oleh Jaka Sembung. Sebagai seorang Pendekar yang disegani oleh Kompeni. Dalam perjuangannya melawan Kompeni yang dipimpin oleh Kapten De Koneng, Jaka Sembung dibantu oleh seorang pendekar wanita bernama Bajing Ireng. Bajing Ireng sebelumnya sudah berjuang melawan Kompeni seorang diri, dimana dia berlaku sebagai pencuri budiman, yaitu mencuri harta orang-orang kaya kepercayaan Kompeni maupun milik Kompeni sendiri untuk dibagikan pada rakyat yang miskin dan menderita.

Dalam perjuangannya, Jaka Sembung dan Bajing Ireng selalu dilindungi oleh gurunya masing-masing, yang masa sebelumnya para guru itu saling punya kaitan peristiwa sebelumnya dengan para pendekar sesat itu. Segala macam peristiwa dan penderitaan dialami baik oleh Jaka Sembung maupun Bajing Ireng dalam perjuangannya. Dan Musuh yang dihadapinya bukan saja para penjajah Kompeni, tapi juga bangsa sendiri yang rela menjual tenaga dan nyawanya untuk kepentingan sang penjajah.

Setelah melihat tekad dan keberanian dari Jaka Sembung dan Bajing Ireng, maka rakyat Pasundan bangkit kembali semangatnya untuk berjuang melawan kezaliman dan keserakahan Kompeni beserta pendukungnya. Akhirnya dengan semangat yang menyala dan dukungan segenap masyarakat / rakyat Jaka Sembung dan Bajing Ireng akhirnya dapat menumpas Kompeni dibawah pimpinan Kapten De Koneng serta Juragan Asmara Cakradiningrat serta pengikutnya.

Daftar serial

  1. "Bajing Ireng", 63 halaman, Maranatha, Januari 1968,
  2. "Si Gila dari Muara Bondet", 64 halaman, Maranatha, Maret 1968,
  3. "Bergola Ijo", 66 halaman, Maranatha, 1968
  4. "Gembong Wungu", 130 halaman, PT Bintang Kejora, 1968
  5. "Air Mata Kasih Tertumpah di Kandang Haur", 1968
  6. "Si Cakar Rajawali", 63 halaman, UP Aries, Agustus 1968
  7. "Pendekar Gunung Sembung", 574 halaman, PT Bintang Kejora,1969
  8. "Leonard Van Eisen", 133 halaman, PT Bintang Kejora, 1969
  9. "Badai Laut Arafuru", 252 halaman, 1972
  10. "Papua", 372 halaman, UP Rosita, 1972
  11. "Iblis Pulau Aru", 372 halaman, 1972
  12. "Wori Pendekar Bumerang", 620 halaman,UP Rosita, 1973
  13. "Singa Halmahera", 558 halaman, UP Rosita, 1973
  14. "Kinong", 558 halaman, UP Rosita, 1973
  15. "Dia Bajing Ireng", 744 halaman, UP Rosita, 1973
  16. "Dia Bangkit dari Kubur", 496 halaman, UP Rosita, 1974
  17. "Kabut Ciremai", 629 halaman, UP Rosita, 1975
  18. "Empat Pendekar Ciremai", 528 halaman, UP Rosita, 1975
  19. "Asiong", 720 halaman, UP Rosita, 1976
  20. "Kiamat di Kandang Haur", 720 halaman, UP Rosita, 1977
  21. "Wali Kesepuluh", 720 halaman, UP Rosita, 1977
  22. "Jaka Sembung Sang Penakluk Ratu Pantai Selatan", 479 halaman, UP Rosita, 1987
  23. "Banjir Darah di Pantai Selatan", 383 halaman, UP Rosita, 1988
  24. "Tahta Para Bangsawan"
  25. "Jaka Sembung vs Si Buta dari Gua Hantu", 109 halaman, Pluz+, 2010
link : JakaSembung dan Jaka Sembung

Komentar