Gerdi W.K.

Gerdi W.K.
Gerdi W.K.

Komikus dengan nama lengkap Gerdi Wirata Kusuma ini dilahirkan di Ciamis 13 April 1953. Sebagai komikus Gerdi WK telah membidani 3 (tiga) tokoh superhero yang menjadi masterpiece di tahun 70-an, yaitu Gina, Santini dan Boda. Gina menjadi idola penggila komik disamping wajahnya yang cantik, juga super sakti dan seksi, yang berasal dari Kerajaan Turaba di Timur Tengah. Sedangkan Santini merupakan jelmaan dari Santi sekaligus jagoan khas Indonesia. Adapun mengenai tokoh Boda juga mirip dengan Gina berasal dari Timur Tengah hanya saja ia laki-laki yang gagah perkasa.

Keunggulan Gerdi WK adalah kemampuan dalam menggambar postur tubuh wanita sangat detil dan indah.

Sandy, seorang pengagum Gerdi menceritakan masa kecilnya begini : Waktu itu sudah banyak beredar komik2 anak-anak yg disadur dari cerita si Raja Dongeng Anak-anak Sedunia, HC Andersen dari Denmark. Banyak komikus-komikus terkenal yg membuat komik anak-anak spt itu, tidak terkecuali pak Gerdi WK. Saya sangat senang membaca komik2 anak-anak buatan pak Gerdi ini karena gambarnya yg bagus itu, bahkan menurut saya, gambar pak Gerdi paling bagus diantara gambar-gambar komik anak-anak yg beredar saat itu. Karena gambarnya yg bagus itu,

Pak Gerdi sering membantu menggambar cover komik anak-anak untuk komikus yang lain. Saya pernah kecele (terkecoh) karena mengira membaca komik buatan pak Gerdi tidak tahunya komik itu dibuat oleh komikus yang lain sedangkan pak Gerdi hanya membuat cover-nya.

Selain itu, pak Gerdi juga menjadi ilustrator dari beberapa buku cerita anak-anak. Penggemar pak Gerdi yg jeli pasti tahu bahwa pak Gerdi, selama beberapa waktu, pernah menjadi ilustrator komik strip Ceritera Dari Negeri Dongeng di majalah anak-anak Bobo, dengan tokoh2nya Nirmala, bidadari cilik yg manis dan si Oki, kurcaci cilik yg nakal.

Gerdi WK mengatakan, komik Indonesia sempat menjadi tuan rumah. Namun, pertengahan tahun 1974 mulai menurun sampai matinya tahun 1990-an. Gerdi sendiri membuat komik untuk penerbitan di koran sejak tahun 1965.

Sosok Gerdi WK adalah pria yang rendah hati, karena hingga saat ini merasa bukan sebagai seorang komikus, melainkan keterlibatannnya dalam komik Indonesia hanyalah penggembira saja. Pertama kali terjun ke dunia komik mengomik juga lantaran dipaksa oleh salah seorang kawannya, yang mengatakan dengan sungguh-gungguh bahwa karyanya bisa dijual. Sayangnya Gerdi lupa, judul karya-karya awalnya itu. Prinsip hidup Gerdi WK adalah bekerja untuk menjadi orang yang mendapatkan gaji secara rutin, sehingga wajar apabila kemudian memutuskan konsentrasi sebagai illustrator di berbagai majalah anak-anak dan penerbit berbagai jenis buku.

Gerdi memberi gambaran, di masa silam satu jilid sebanyak 64 halaman dia mendapatkan Rp 100.000. Saat itu harga emas satu gram Rp 250 perak, jadi satu jilid bisa untuk membeli 400 gram atau sekitar setengah kilogram emas. Gerdi malah sempat mendapatkan honor tetap.

Gerdi WK kemudian juga lebih banyak bergerak di dunia periklanan.

Lain lagi pendapat Gerdi WK. Ketakukan penerbit akan tidak lakunya komik Indonesia membuat komik nasional semakin terpuruk. Saat ini persaingan dengan komik luar sangat tinggi, anak-anak terbiasa dengan komik Jepang. Sebaliknya komik Indonesia malah dirasa asing lantaran ada kevakuman dalam dunia komik yang, menurut Gerdi, mulai terjadi sejak pertengahan tahun 1970-an.

"Sampai sekarang masih perdebatan. Ada yang bilang penurunan itu karena masuknya komik Jepang. Akan tetapi, sebagian mengatakan komikus kita kurang menjaga kualitas," ujar Gerdi.

Serbuan komik Jepang memang harus diakui. Namun, menurut Gerdi, semua serba terkait. Faktor yang membuat komik Jepang membanjir karena penerbit lebih memilih komik itu daripada membeli karya komikus lokal. Untuk menerbitkan komik luar, mereka cukup membeli lisence saja daripada membeli master.

"Kenapa komik Jepang banyak? Itu karena penerbitnya mau murah. Kenapa komik luar itu laku? Karena, anak-anak waktu itu lebih senang dan para komikus mungkin juga kurang menjaga mutu. Tidak terjaganya mutu karena semakin lama hasil jerih payahnya kurang mencukupi dan semakin tidak dihargai sehingga pengerjaannya jadi dikebut. Ada teman saya, karena honor satu jilid murah, jadi dia bikin 4-5 jilid dalam satu bulan," ujar Gerdi.

Saat ini Gerdi, RA Kosasih, Djair, dan Mansyur Daman tidak lagi menyimpan satu pun naskah asli karya atau mengoleksi karya pribadi. Alasannya beragam dan kadang menggelitik. Djair mengatakan, sebagian besar naskahnya sudah menjadi milik penerbit lantaran dibeli putus. Waktu itu mesin fotokopi juga masih langka. Sebagian habis dimakan rayap, dipinjam produser di film. "Ada yang dipinjam pacarnya anak saya, terus enggak balik. Saya juga tidak menyimpan komik sendiri. Biar yang baca orang lain saja," ujarnya sambil tersenyum.

Begitu juga Gerdi WK. Dahulu, pembuatan komik biasanya dengan memotret karya asli kemudian dicetak. "Setelah dipotret biasanya dibuang dan dipungutin sama anak-anak yang sedang belajar menggambar," ujarnya.

Serial Gina pertama kali terbit 1972 dalam episode Gina vs Siluman Ular dan berlangsung sebanyak 19 judul hingga 1985 dengan judul Rahasia Istana Es. Kisah Gina yang banyak dianggap masterpiece oleh penggemarnya adalah trilogi Gurun Gobi (1975), Teratai Merah (1976) dan Vampire-vampire Laut Kuning (1976).

Seperti lazimnya episode pertama, asal-usul Gina dijelaskan dalam Gina vs Siluman Ular. Sebenarnya Gina hanyalah seorang putri sultan yang diselamatkan seorang kakek tua ketika ia disiksa Putri Siluman Ular. Diberinya Gina kekuatan sakti, di antaranya mampu terbang dan mengeluarkan sinar ampuh dari kedua telapak tangannya.

Setelah mengalahkan musuhnya dan menyelamatkan keluarga serta kerajaannya, Gina terpanggil untuk membantu umat manusia. Ia berkelana ke berbagai negeri, termasuk ke Mesir dan beberapa negeri lain. Versi film animasinya pernah terbit dengan judul Gina vs Ratu Ular pada 2002 (ilustrasi oleh Mansjur Daman, yang dikenal dengan serial komik Mandala).

Komentar